Terrible !!
Hmm… Lagi pengen nulis serius
Tulisan ini diilhami dari kejadian beneran yang terjadi di kantor sekarang, yg kalo’ terus menerus dipikirkan, “is it for real ?!”, makin gak percaya ajah kalo’ itu bener-bener bisa terjadi…
Terlalu berbau “Hollywood”, terlalu hiperbolis..
Setelah lulus kuliah, Alhamdulillah, Tiwi langsung kerja. Selama 6 tahun di tempat yang sama dengan lingkungan kerja, baik personal maupun jenis pekerjaan yang hampir sama… IT…IT…IT…
Lingkungan personalnya ?! Jelas IT people… Yang tipis bener beda habit-nya antara cewek dengan cowoknya…
*is it for real or only my feeling say so ?!*
Awal tahun 2006, ada tawaran kesempatan pengembangan kemampuan, dengan tantangan yang lebih besar, untuk ikutan pindah ke perusahaan yang masih merintis jati diri.
Perusahaan kecil, tp dengan lingkup bisnis yg lumayan besar, dg amunisi personil yang hanya beberapa gelintir. Kebayang deh pokoknya yg namanya “kerja keras” itu…
Alasan Tiwi menerima tawaran untuk pindah ?! Lokasi kantornya lebih dekat
Sederhana yaa ?!
Menjelang tahun ke-2, ada beberapa kondisi kantor yg membuat Tiwi hampir gila…
Entah karena Tiwi yang belum terbiasa dengan lingkungan kerja yang sebenarnya, atau memang mereka-mereka itu yg keterlaluan.
Tadinya, Tiwi pikir tuh, lingkungan kerja yang digambarkan di film-film atau sinetron-sinetron dimana ada beberapa wanita di dalamnya dan bersaing atas segala sesuatu : apakah itu perhatian rekan sekitar, pujian atasan, dan lain-lain hanya fiktif belaka. Toilet talks itu Tiwi kira juga hanya kiasan yang hiperbolis terhadap suatu kondisi yang biasa saja.
Bisa dibayangin gak, ada orang yg digeret-geret ke toilet oleh, sebut saja A, hanya untuk diinterogasi, apakah ada gosip tentang dirinya ?! Taelah… kurang kerjaan sekali rasanyah…
Tapi, ini bener-bener terjadi di kantor yg sekarang !! Persaingan nggak penting antara hanya 2 (DUA !) wanita saja, tapi melibatkan juga orang-orang di sekelilingnya… ampun !! Nyaris membuat orang-orang lainnya ikut tidak waras dengan kondisi ini.
Gimana nggak… kalo’ si A selalu meneror kami dengan seretan-seretan dan tembakan-tembakan pertanyaan “Masak sih gak denger di B ngomongin aku ?!” atau si B yg kerja keras banget mengubah tampilan (secara mencolok dan drastis sehingga semua dapat melihat jelas..) untuk, sepertinya menyamai kredibilitas fashion si A…
Semakin dipikir.. semakin dicari-cari… Nggak akan pernah ketemu… apakah kondisi ini bisa disebut normal atau tidak ! Karena yg terlintas hanyalah kilasan-kilasan film-film ala Hollywood macam Suddenly 30, How to lose a guy in 10 days… kaya’ gitu-gitu deh…
It’s only in the movie my friend…
Buat Tiwi, kondisi ini benar-benar menyiksa… Alhamdulillah sih, secara pribadi, Tiwi belum pernah terkena dampak langsung. Karena Tiwi bukan tipe orang yg bisa seenaknya diseret-seret ke toilet..
Tapi di tengah kesibukan kantor yg seperti lantai bursa yg membutuhkan kedinamisan dan kepekaan personilnya akan semua perkembangan… Kenapa masih ada yg sempat berbuat yg nggak-nggak gitu yaa ?!
Please don’t tell me, that it happens in common working environment…
C’mon ladies, behave… You’re valued by your achievement…. bukan dr pakaian, perilaku yg mengada-ada, atau nada bicara…
Achieve something, then people will automatically look at you.
Value yourself HIGHER, please…
Things Happen in Life
07 07 07 – Officially moved to our own new home…
05 07 07 Asha pertama kali kedeteksi benar-benar anak Jawa. Suka jamu !! Gee… superb, kiddo !!
Alhamdulillah…
Have I told you ?!
Have I told you that i love you…
Untuk semua pengertian di saat aku harus mendahulukan kantor daripada urusan domestik rumah tangga kita ?!
Untuk segelas teh hangat yang kamu buatkan setelah aku membereskan itu semua dan kembali dengan napas dan energi yang tinggal setengah-setengah ?!
Untuk beberapa pijitan di kaki, yang selalu dapat me-recharge aku sehingga orang-orang di sekelilingku hanya tahu, bahwa aku adalah seseorang yg selalu berenergi…
Itu karena kamu…
Have I told you, that i really love you…
Untuk semua kekhawatiranmu saat aku sedang tidak sehat, yang pastinya disebabkan oleh ketidakmampuanku menyeimbangankan antara rutinitas dan istirahat…
Untuk semua usahamu agar aku dapat segera pulih, dan menjadi teman bermain lagi untuk raja kecil kita
Untuk setiap kerokan, yang bertabur kasih sayang…
Untuk setiap pijatan, yang dibumbui kekhawatiran…
Have I told you, that i really, really love you…
Untuk semua kerja kerasmu mewujudkan mimpi-mimpi kita…
Untuk usahamu untuk belajar menjadi seorang pemimpin keluarga yang sesungguhnya…
Untuk upayamu mendekatkan diri kepada raja kecil kita…
I love you, Hubby… always love you.
For everything you do… everything you try to reach…
no title #2
is this the kind of life i really want ?!
or
is this the kind of life YOU really want for me ?!
i think the answer would be “NO” for both.
the must be a mistake here.
and i have known that, actually.
gosh.
(no title) #1
Aku memang belum pernah, dalam pekerjaan, secara struktural menjabat menjadi seseorang yg membawahi orang lain.
Tapi aku tahu pasti, bahwa kita dididik untuk menghormati seseorang yang lebih tua… Kalau tidak bisa secara sikap, paling tidak lewat pemilihan kata-kata yang digunakan untuk berkomunikasi dengannya.
Iya kan ?
Aku Berubah, ya ?
“Kamu berubah… jadi lebih kasar sejak pindah kantor. Sepertinya, bener-bener harus cepat resign nih…”
Kaget, jujur. Kenapa kata-kata itu bisa keluar dari seorang Erwin ?
Sebagai suami, Erwin jarang sekali protes tentang yang berkenaan dengan pribadi Tiwi. Lhaa wong dia ngejar-ngejar aku karena kepribadiannya kok… iyah kan mas ?! (sadar diri gak mungkin karena fisik soalnyah =)) )
Kecuali, masalah keseharian seperti mandi, masak, dll. Hehehe… iyaa, kebiasaan jadi anak yang jarang keluar rumah, buat Tiwi, mandi tercepat itu nanti, sewaktu harus sholat Dzuhur. Kalo’ untuk Erwin, mandi pagi itu yaa bener-bener pagi. Setelah bangun tidur. Kalau bisa, sebelum sholat Subuh. Iiihhh… kan masih dingin mas… Ntar juga keringetan lagi pastinya… :p
Tiwi berubah yaa ?
Sepertinya Tiwi memang jarang melakukan interospeksi lagi akhir-akhir ini. Bukan… bukan karena ada Asha. Tiwi nggak mau anak semanis itu dijadikan alasan. Kalaupun Tiwi mau, seharusnya setelah Asha tidur, Tiwi bisa melakukan hal itu, kan ?!
Tapi sepertinya, setiap malam tuh yang Tiwi pengen cuma cepat tidur juga, dan berharap semua hari itu adalah hari Sabtu atau Minggu. Sehingga Tiwi tidak harus menghadapi kondisi kerja sangat…sangat…sangat melelahkan.
Perusahaan Tiwi yang sekarang adalah perusahaan baru. Benar-benar baru berdiri. Segalanya serba gonjang-ganjing. Hanya yang bermental keras dan ber-pribadi yang keras, yang bisa bertahan sepertinya. Dimana pisuhan dan pressure tingkat tinggi adalah sesuatu yang berlaku setiap harinya. Orang-orangnya juga kebanyakan orang-orang baru yang dituntut harus mampu belajar secara cepat, tapi tentu harus tepat. Termasuk belajar beradaptasi. Tidak seperti kantor lama yang kebanyakan berasal dari lingkungan sama, yaitu STT Telkom, sehingga “bahasa batin” sepertinya juga bisa berlaku di sana.
Tiwi tidak hendak menyalahkan lingkungan dengan menulis ini semua. Toh atasanku juga pernah menyatakan merasakan hal yang sama. Tidak ada yang salah di sini…
Tiwi cuma sedang berusaha mengingatkan diri sendiri. Bahwa pribadi yang baik itu adalah pribadi yang dapat cepat membaur dengan lingkungan barunya, tetapi tetap berusaha untuk tidak lebur.
Tiwi seharusnya bisa dengan lincah menjadi bagian dari lingkungan yang sekarang ini, tetapi tidak lantas ikut-ikutan berubah menjadi “kasar” seperti kebanyakan.
Sepertinya, Tiwi juga mulai dituntut untuk benar-benar profesional. Memisahkan kehidupan kerja di kantor, dengan kondisi yang dibutuhkan di rumah. Seperti yang berlaku sebelumnya…
Setelah kembali membaca-baca postingan di blog lama, jujur, Tiwi seperti tidak mengenal diri yang sekarang. Dari gaya tulisannya, Tiwi dulu adalah orang yang bisa selalu mengambil hikmah dari peristiwa di sekeliling, mengolahnya, dan membaginya dengan cara yang menyenangkan. Dengan sangat keras berusaha pun, sepertinya hingga tulisan ini dibuat, Tiwi tetap belum bisa menemukan “gaya” itu kembali.
Well, looks like I miss the environment where people can still smile and laugh very much ! I miss those day, guys. This is the price I should pay for what the benefits i get, maybe…
Sam, sorry for the things I’ve done. Thank you for keep being my bestfriend. Teman yang selalu berani mengkritik jika memang ada yang kurang benar dalam laku dan kata. Introspeksi bareng yuk…
Love you, hun… :-*
PS :
Jadi kapan aku boleh beneran resign ??
)
Memoar tentang Seorang Temanbaik
Rini Dwi Agustini. Anak kedua dari 3 bersaudara. Satu-satunya perempuan. Wajar, kalo’ Enie, begitu dia membahasakan dirinya, menajadi pibadi yang manjaaaa sekali.
Kami pertama kali bertemu di pembagian ruangan kamar, STT Telkom. F-209. Itu kamar kami. Berbagi dengan 6 orang lainnya. Berpisah dengan orang tua ?! Sangat menyedihkan…
Apalagi untuk anak seperti aku dan Enie. Dua anak manja yang belum pernah jauh dari rumah… Akibatnya ?!
Bertemu di wartel untuk menelepon interlokal adalah hal yang biasa…
Keluar dari asrama, kami berdua pula yang bersikukuh untuk mengontrak rumah (plus mencari pembantu) agar hidup kami tak jauh dari kenyamanan di rumah asal ![]()
Jadilah, waktu itu, 5 dari 8 orang penghuni kamar asrama, berpindah ke sebuah rumah bertingkat dua, SKB 36 A.
Enie di lantai 1 bersama Dhe2n. Aku di lantai 2 bersama Irma dan Shanti.
Episode menjadi anak kontrakan benar-benar memberi warna dan cerita-cerita seru. Apalagi, lagi-lagi, bagi kami berdua. Enie yang bergabung dengan ekstrakurikuler SWS, khusus warga Sunda, dan aku yang akrab dengan penghuni gedung C angkatan atas. Membuat kontrakan kami bisa dibilang tidak pernah sepi pengunjung. apalagi di waktu malam.Selalu saja ada yang bertamu…
Setahun hidup bersama, masih teringat banyak sekali kekonyolan yang kami alami. Berlima. Aku sebagai ayah di kontrakan. Irma sebagai Ibu. Dan anak-anak, Shanti, Dhe2n dan Enie sebagai si Bungsu.
Terlambat bangun untuk kuliah, mengerjakan laporan praktikum dengan mesin ketik manual, menyetel kaset Dewa – Kirana atau ME – Kasih Putih… senantiasa membuat hidup kami benar-benar berwarna.
Logat sunda dan cara berbicaranya yang manja, benar-benar menjadi trademark seorang Enie.
Jangan dekat-dekat dengannya dan Dhe2an saat hendak ujian. Caranya menghafal yang selalu menimbulkan suara-suara, sangat tidak cocok dengan cara belajarku yang butuh keheningan, kecuali suara radio.
Setahun, 1996-1997, lantas kami berpisah. Rumah kontrakan kami mau dijual. Terpaksa menyebar. Tapi karena masih dalam lingkungan yang sama, persaudaraan tetap terjalin. Apalagi kebersamaan selama setahun benar-benar sudah membuat kami bagaikan saudara sekandung. Tak ada yang kami lewatkan…
Pernikahan kakaknya di Tasikmalaya, prosesi Geladi yang Enie habiskan dengan menginap di rumahku karena mengambil area yang sama, Jakarta, orang tua yang (masih saja) rutin menengok walau kami sudah lama di rantau….
Enie, setelah lulus, tetap saja ikatan itu masih ada. Dia kerja pada institusi yang merupakan mitra tempat kerjaku. Tentu saja, pertemuan masih tetap berlanjut. Bahkan saat dia mengabarkan akan ikut ke Oman, menemani sang suami, kami berempat (Shanti di Surabaya) masih mengatur pertemuan di bandara. Walau akhirnya gagal karena jadwal pesawat yg dipercepat.
Balik kembali ke Indonesia karena tidak betah di negeri orang, Enie menjadi orang pertama di alumni 36A yang mampu memiliki sebuah rumah, dan mengadakan selametan, mengundang kami semua. Bahagia rasanya melihat kebahagiaan keluarga mereka… Anak kecil yang sehat, rumah yang berdiri kokoh…
Mungkin itu pertemuan terakhir Enie dan aku…
Kalau hanya lewat media maya… saat Asha lahir pun kami masih berhubungan.
Sampai tadi pagi…
Sebuah jendela YM menyapa :
Lukluk (10:00:58 AM): mba tiwi
TW . (10:01:03 AM): yes
Lukluk (10:01:05 AM): memang ada anak 96 yg meninggal?
TW . (10:01:12 AM): heh ? sapa ?
Lukluk (10:01:13 AM): namanya rini dwi?
TW . (10:01:16 AM): blon ada di milis luk
TW . (10:01:23 AM): rini dwi ?
Lukluk (10:01:30 AM): itu bang hendri nanya aku
TW . (10:01:32 AM): anak apaan ?
TW . (10:01:52 AM): blon ada di milisku sih
TW . (10:01:56 AM): sik aku tanya2 YM dulu
TW . (10:02:02 AM): rini dwi lak rini rumahku
TW . (10:11:05 AM): kalo’ 96 yg namanya rini pake’ dwi cuma satu itu…
Sumpah… hati yang tadinya tenang karena dirasa tidak mungkin ada kabar tentang seorang Rini (apalagi Rini – 36A) yang tidak tiwi ketahui… plus, beberapa jendela YM konfirmasi kepada teman seangkatan yang mengaku tidak mendengar kabar apa-apa… menjadi dag-dig-dug saat tiwi menghubungi seorang teman yang bekerja di kantor yang sama dengannya.
“Iya wi, Rini meninggal kemarin sore jam 4 di Mitra Keluarga, Jatinegara.”
Sedih, marah, bingung, menumpuk jadi satu… Teman kantor. Menyaksikan saat sakitnya. Apalagi yang membuat dia tidak bisa dipercaya.
Innalillahi wa inna ilaihi roji’uun…
Sakit sejak Oktober 2006. Meninggal Desember 2006. Berpindah dua rumah sakit. Meninggal di RS Mitra Keluarga, Jatinegara. Dimandikan di rumah duka di Pondok Bambu.
Rumah tiwi dimana ? Pondok Gede…
15-20 menit menuju rumahnya atau rumah sakitnya. Tiap pagi melewati saat berangkat kerja.
Dan tiwi nggak tau itu semua ?! Gosh ! It hurts so very…very bad…
Satu hal yang bisa tiwi lakukan. Memberitahukan kabar ini kepada seluruh penghuni asrama dan SKB 36A serta kost-kost-an Enie terakhir. Meminta do’a kepada semua…
Nie, maafin tiwi yaa…
(Akhir Desember 2006)
Menulis Lagi…
Haduww… Asha sudah besar. Sudah 6 bulan tanggal 2 Maret 2007 yang lalu. Artinya, sudah sekitar 6 bulan juga tiwi tidak lagi pernah menulis di blog.
Bukan… bukan Asha kok alasannya. Bukan kerjaan juga ![]()
Tapi karena bosan. Bosan dengan layout lama blog tiwi. Dan tidak punya waktu untuk mengubahnya menjadi lebih “manis”
Akhirnya, solusi instan pun dipilih. WordPress.com dicoba. Sambil belajar tentunya. Karena domain pratiwi.net dan temanbaik.com masih menanti untuk tetap dihuni.
Kabar Tiwi baik. Alhamdulillah, sedang (lebih) menikmati peran baru sebagai seorang ibu. Asha makin pintar tiap harinya. Ada saja yang menggemaskan.
Masih bekerja. Belum bisa menjadi full-time-mother seperti cita-cita selama ini. Insya Allah, dalam waktu dekat bisa tercapai. IF satu dari 2 kondisi yang diberikan erwin terpenuhi THEN being an FTM bisa terlaksana. Amiiinn…
Kenapa menulis lagi ? Karena iri dan malu..
Iri kepada beberapa blogger yang tiap hari sepertinya kemampuan menulisnya semakin baik.
Iri karena beberapa blogger, terlihat seperti tidak pernah kehabisan motivasi untuk berbagi dengan pembacanya… Iri kan ? Mereka sedang beramal secara tidak sadar…
Malu, karena selama ini tiwi hanya menjadi pembaca. Tidak bisa menjadi bagian yang aktif dalam sebuah komunitas…
Anggota komunitas yang baik itu, seharusnya bersifat take and give…
Mudah-mudahan, setelah ini, Tiwi akan semakin sering menulis lagi….

